Pages

Selamat Datang

Masak-masak

PERKEDEL TEMPE
*Bahan : 200 g tempe ; 1 butir telur; 2 senok makan bawang goreng; minyak untuk menggoreng.
*Bumbu halus: 5 butir bawang merah, 3 siung bawang putih, 3 cabai merah, 1 sendok teh garam.
* Cara membuat :
   -Haluskan tempe, Aduk tempe dengan bumbu halus, bawang goreng dan telur, sendokkan perkedel ke dalam minyak panas, goreng sampe matang.

It's easy kan....(^.^)

Muhasabah Yuuk!!!

Muhasabah bukanlah ajang untuk menghukumi dan mengutuk diri sendiri atas keburukan dan kesalahan diri. Akan tetapi, sebagaimana juga evaluasi-evaluasi lainnya, bertujuan mengenali masalah, mengingat kembali tujuan hidup, melakukan perbaikan dan seterusnya, peningkatan dan pengembangan diri.
Umar bin Al-Khaththab ra pernah berwasiat sebagai berikut: "Hisablah (lakukan evaluasi terhadap)  diri kalian sebelum kalian dihisab (dihitung amal perbuatan kalian di akhirat kelak) dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia."
Jelaslah bahwa Muhasabah adalah jalan bagi hamba-hamba Allah yang menghendaki kehidupan akhirat yang membahagiakan, selain juga ketenangan yang diperolehnya selama hidup di dunia. Allah SWT menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman untuk selalu mengecek kesiapan diri menghadapi 'hari esok', istilah yang bermakna hari akhirat. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Quran Surah Al-Hasyr, 59:18)
Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa seorang yang cerdas adalah seorang yang banyak megingat kematian, karena itulah pintu gerbang ke kampung akhirat yang abadi, di mana di sana terdapat kebahagiaan hakiki atau kesengsaraan tanpa henti.

Setiap Muslim beriman kepada datangnya hari kiamat serta adanya hari pembalasan atas segala perbuatan manusia di dunia. Namun, benarkah pikiran dan perilaku kita menunjukkan bahwa kita beriman akan datangnya Hari Akhir? Apakah setiap kali hendak mengambil tindakan atau keputusan sesuatu hal, kita langsung memikirkan apakah Allah ridha terhadap keputusan atau tindakan yang kita ambil itu? Ataukah tindakan atau keputusan tersebut keluar begitu saja tanpa pernah memikirkan tentang balasan atau keridhaan Allah??
Pada kenyataannya, tak sedikit kita melihat perilaku-perilaku orang yang tak segan-segan mlakukan maksiat di depan publik, meski mereka mengaku Muslim. Bahkan menghina agama. Lalu bagaimana dengan kita? Menghadirkan keimanan yang benar tentang adanya hari akhirat dalam pikiran kita, adalah upaya yang sangat kita perlu lakukan terus-menerus.

Apa pun yang ingin dicapai seseorang setelah ia melakukan evaluasi diri, maka kekuatan keyakinan diri bahwa ia mampu mencapainya -dengan izin Allah- sangat memengaruhi daya juangya untuk mencapai apa yang diinginkannya itu. Keyakina itu terletak pada pikiran.
Allah mejamin keberhasilan di jalan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut 29:69)

Dalam melakukan perbaikan dan peningkatsn diri setelah melakukan muhasabah, seorang beriman perlu meresapi wasiat Rasulullah SAW berikut ini : "...Antusiaslah terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada  Allah dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau ucapkan; 'seandainya dulu aku melakukan ini dan ini'. akan tetapi katakanlah; ' sudah menjadi ketentuan Allah, Ia melakukan sesuatu yang dikehendaki-Nya'. karena ucapan 'seandainya' membuka pintu setan." (Muslim)

Sumber: Majalah Aulia edisi Februari 2011

Hati-hati berpikir Positif

wow...sempat heran baca salah satu judul dalam buku Quantum ikhlas.. knp ya??bukannya sekarang kita dianjurkan untuk berpikir positif.. Hm...ternyata perlu hati2 juga...

Pikiran negatif itu biasanya dianjurkan agar dilawan dengan berbagai trik sikap mental dan cara berpikir positif yang justru menimbulkan konflik batin. Sebab tanpa kita sadari, energi apa pun yang ditekan atau tidak diakui akan balik menekan sebesar kekuatan kita menekannya.*hmmm...bener juga 
Pikiran negatif seperti ketakutan dan kekhawatiran untuk beberapa saat sepertinya teratasi, namun sebetulnya sama sekali tak lenyap. Ia hanya akan mengendap di alam bawah sadar. jadi, ketika pikiran positif terkulai lemah, perasaan negatif itu akan muncul kembali.  *Oh wow
Dalam hal berpikir positif, ini disebabkan oleh adanya dua jenis pikiran yang saling bertentangan dan dipaksakan untuk dijalankan. ketika seseorang berpikir positif (dengan sadar) "saya ingin sukses!" sesungguhnya di dalam hati (bawah sadar) ia sedang mengatakan bahwa "saya tidak sukses!". Sehingga semakin kuat pula pikiran bawah sadarnya (ingat, dengan 88% kekuatan dahsyatnya!) menjerit "saya tidak sukses!"
*langsung di rangkuman saja ah..
Mengapa kita perlu berhati-hati menerapkan strategi "berpikir positif"
Pertama, karena sifat kegiatannya yang abstrak, banyak yag tidak menyadari bahwa pikiran negatif dilahirkan dari perasaan negatif yang lebih berupa vibrasi energi, bukan dari pikiran. Sehingga walaupun seperti ada manfaatnya, positif thinking sebenarnya merupakan resep yang keliru untuk mengubah pikiran negatif jadi positif.
Kedua, karena penyebab timbulnya pikiran negatif adalah suatu perasaan di dalam hati (bawah sadar), maka segala usaha untuk menanamkan pikiran positif yang tidak dilakukan di hati menjadi tidak tepat sasaran. Dan betapa pun mulia niat seseorang untuk berubah menjadi lebih baik, prosesnya sangat sulit dan hasilnya akan mengecewakan.
Ketiga, ketika kita melakukan usaha untuk berpikir positif, kita secara tidak sadar"memusuhi, membenci, dan tidak menyukai" bagian dari diri kita sendiri (yang negatif). Seperti hukum alam dan pepatah kuno: " Apa yang kita benci akan cenderung membesar, dan apa yang kita tekan akan menekan balik", hal ini juga berlaku bagi pikiran kita. BAgian negatif diri kita akan semakin terlihat, dan kita akan semakin tidak menghargai diri kita sendiri.
*oooohhhh ngono toh
aku suka point terakhirnya, katanya:
PIKIRAN POSITIF YANG RASANYA ENAK BERARTI POSITIF
PIKIRAN POSITIF YANG RASANYA TIDAK ENAK BERARTI PIKIRAN NEGATIF

*maka waspadalah waspadalah...heheheh
yeah...ini cuma sekilas yang aku baca dalam bku ini, mending kamu baca sndiri aja...

MENGGAPAI¬¬-MU


Tak tau lagi ke mana jalan ini
Telah banyak lika-liku jalanan yang dilalui
Tapi dimanakah Engkau..
Bila memang jalan ini salah
Maka tunjukkanlah arahnya

Aku tak berharap harta, kekuasaan, dan segala keindahan dunia
Bila memang telah menjauhkanku dari-Mu
Hanya satu yang kumau
Menggapai-Mu…
Cinta-Mu, jalan-Mu, cahaya-Mu dan surga-Mu