Pages

Selamat Datang

Muhasabah Yuuk!!!

Muhasabah bukanlah ajang untuk menghukumi dan mengutuk diri sendiri atas keburukan dan kesalahan diri. Akan tetapi, sebagaimana juga evaluasi-evaluasi lainnya, bertujuan mengenali masalah, mengingat kembali tujuan hidup, melakukan perbaikan dan seterusnya, peningkatan dan pengembangan diri.
Umar bin Al-Khaththab ra pernah berwasiat sebagai berikut: "Hisablah (lakukan evaluasi terhadap)  diri kalian sebelum kalian dihisab (dihitung amal perbuatan kalian di akhirat kelak) dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia."
Jelaslah bahwa Muhasabah adalah jalan bagi hamba-hamba Allah yang menghendaki kehidupan akhirat yang membahagiakan, selain juga ketenangan yang diperolehnya selama hidup di dunia. Allah SWT menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman untuk selalu mengecek kesiapan diri menghadapi 'hari esok', istilah yang bermakna hari akhirat. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Quran Surah Al-Hasyr, 59:18)
Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa seorang yang cerdas adalah seorang yang banyak megingat kematian, karena itulah pintu gerbang ke kampung akhirat yang abadi, di mana di sana terdapat kebahagiaan hakiki atau kesengsaraan tanpa henti.

Setiap Muslim beriman kepada datangnya hari kiamat serta adanya hari pembalasan atas segala perbuatan manusia di dunia. Namun, benarkah pikiran dan perilaku kita menunjukkan bahwa kita beriman akan datangnya Hari Akhir? Apakah setiap kali hendak mengambil tindakan atau keputusan sesuatu hal, kita langsung memikirkan apakah Allah ridha terhadap keputusan atau tindakan yang kita ambil itu? Ataukah tindakan atau keputusan tersebut keluar begitu saja tanpa pernah memikirkan tentang balasan atau keridhaan Allah??
Pada kenyataannya, tak sedikit kita melihat perilaku-perilaku orang yang tak segan-segan mlakukan maksiat di depan publik, meski mereka mengaku Muslim. Bahkan menghina agama. Lalu bagaimana dengan kita? Menghadirkan keimanan yang benar tentang adanya hari akhirat dalam pikiran kita, adalah upaya yang sangat kita perlu lakukan terus-menerus.

Apa pun yang ingin dicapai seseorang setelah ia melakukan evaluasi diri, maka kekuatan keyakinan diri bahwa ia mampu mencapainya -dengan izin Allah- sangat memengaruhi daya juangya untuk mencapai apa yang diinginkannya itu. Keyakina itu terletak pada pikiran.
Allah mejamin keberhasilan di jalan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut 29:69)

Dalam melakukan perbaikan dan peningkatsn diri setelah melakukan muhasabah, seorang beriman perlu meresapi wasiat Rasulullah SAW berikut ini : "...Antusiaslah terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada  Allah dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau ucapkan; 'seandainya dulu aku melakukan ini dan ini'. akan tetapi katakanlah; ' sudah menjadi ketentuan Allah, Ia melakukan sesuatu yang dikehendaki-Nya'. karena ucapan 'seandainya' membuka pintu setan." (Muslim)

Sumber: Majalah Aulia edisi Februari 2011

0 komentar:

Posting Komentar